Ruang Ilmu Syariah
← Kembali ke beranda Fikih Ibadah

Sebab Kegagalan dalam Menuntut Ilmu

18 September 2026

๐Ÿ“š Dua Sebab Kegagalan dalam Menuntut Ilmu

Ibnu Badran raแธฅimahullฤh berkata (dalam bab Laแนญฤ'if wa Qawฤ'id):

ุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูŠูŽู‚ู’ุถููˆู†ูŽ ุงู„ุณูู‘ู†ููŠู†ูŽ ุงู„ุทูู‘ูˆูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุชูŽุนูŽู„ูู‘ู…ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูุ› ุจูŽู„ู’ ูููŠ ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงุญูุฏูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุญูŽุตูู‘ู„ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุทูŽุงุฆูู„ูุŒ ูˆูŽุฑูุจูŽู‘ู…ูŽุง ู‚ูŽุถูŽูˆู’ุง ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงุฑูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽู‚ููˆุง ุนูŽู†ู’ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูุจู’ุชูŽุฏูุฆููŠู†ูŽ

"Ketahuilah, bahwa banyak orang menghabiskan bertahun-tahun lamanya untuk belajar suatu ilmu โ€” bahkan hanya satu cabang ilmu โ€” namun tidak mendapatkan hasil yang berarti darinya. Bahkan terkadang mereka menghabiskan seluruh umurnya untuk itu, namun tidak beranjak dari level pemula."

Beliau menjelaskan sebabnya kembali pada salah satu dari dua perkara:

ุงู„ุณูŽู‘ุจูŽุจู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู:

ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง: ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุฐูŽู‘ูƒูŽุงุกู ุงู„ู’ููุทู’ุฑููŠูู‘ุŒ ูˆูŽุงู†ู’ุชูููŽุงุกู ุงู„ู’ุฅูุฏู’ุฑูŽุงูƒู ุงู„ุชูŽู‘ุตูŽูˆูู‘ุฑููŠูู‘ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูŽุง ูƒูŽู„ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ูููŠ ุนูู„ูŽุงุฌูู‡ู

"Salah satunya: tidak adanya kecerdasan bawaan (fitrah), dan tiadanya daya tangkap konseptual. Ini tidak perlu kita bahas, dan tidak ada solusinya (dari sisi metode belajar)."

โš ๏ธ Catatan Kritis: Ibnu Badran sendiri tidak memberi solusi teknis untuk sebab pertama ini karena sifatnya adalah kapasitas bawaan (al-fiแนญrah) yang tidak bisa diperbaiki dengan metode belajar; syaikh menegaskan solusinya kembali kepada Allah semata.

ุงู„ุณูŽู‘ุจูŽุจู ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ:

ูˆูŽุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู‡ู’ู„ู ุจูุทูุฑูู‚ู ุงู„ุชูŽู‘ุนู’ู„ููŠู…ูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ูููŠู‡ู ุบูŽุงู„ูุจู ุงู„ู’ู…ูุนูŽู„ูู‘ู…ููŠู†ูŽ

"Yang kedua: kebodohan tentang metode mengajar (al-jahl bi แนญuruq at-ta'lฤซm), dan ini yang menimpa sebagian besar guru."

Ibnu Badran menggambarkan kesalahan metode ini secara rinci: guru menyibukkan murid pemula (yang baru ingin belajar nahwu, misalnya) dengan pembahasan berlarut-larut tentang basmalah dan hamdalah selama berbulan-bulan, agar terkesan "luas ilmunya". Kemudian ketika murid akhirnya lolos dari fase itu, ia dijejali matan atau syarah beserta hasyiyah (catatan pinggir) dan hasyiyah atas hasyiyah, dipenuhi perbedaan pendapat ulama, perdebatan bantahan-jawaban, sampai tertanam dalam benaknya bahwa ilmu ini hanya bisa diraih oleh orang yang mendapat "karamah" khusus.